"Bagaimana dia bisa menemukannya? Sungguh tidak masuk akal, wanita itu seharusnya sudah mati terkubur, tapi kenapa Lynx bisa mengetahui keberadaannya?" Suara Banu, pemuda yang diikuti Gahara, terdengar penuh kemarahan.

Gahara yang mendengarnya tersenyum licik. "Bagus, rupanya kita memiliki musuh yang sama."

Dengan langkah yang lebih mantap, Gahara melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, menampakkan dirinya di depan pemuda itu. "Mencari sesuatu?" tanyanya dengan suara yang rendah dan menggoda.

Banu terkejut, dan sepasang matanya melebar saat melihat Gahara. "Siapa kau?" tanyanya, suaranya bergetar, jelas terkejut dengan kemunculan sosok yang tiba-tiba. Banu memperhatikan sosok pria itu, tubuhnya yang tegap dibalik penampilannya memperlihatkan pria ini bukan orang biasa. Darah di sela-sela mulutnya membuat terlihat menyeramkan.

"Ah, aku hanya seseorang yang lewat di tempat ini," jawab Gahara sambil tersenyum sinis. "Tapi sepertinya, kita memiliki kepentingan yang sama."

"Apa maksudmu? Aku tidak mengenalmu. Aku akan menangkapmu dan menyerahkan ke kampung untuk diperiksa," ancam Banu, berusaha menunjukkan ketegasan.

Gahara melangkah lebih dekat, merasakan ketegangan di udara. "Tidak perlu tegang, anak muda. Kau tahu, beberapa hari yang lalu aku melihat tontonan menarik, seorang pemuda menggendong wanita cantik ke tempat ini. Sangat menarik, bukan? Apa kamu tidak ingin mengetahui siapa pemuda itu?"

Banu kaget dan marah. "Siapa kamu? Apa maumu?"

Gahara tertawa pelan, "Tidak perlu marah, anak muda. Kita memiliki musuh yang sama." Dia memiringkan kepalanya, memperhatikan pemuda itu dengan penuh minat. "Apakah kamu tidak membutuhkan rekan untuk membalas musuhmu?"

Banu terdiam sejenak, matanya menyiratkan keraguan. "Rekan? Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena aku tahu apa yang terjadi," jawab Gahara, nada suaranya menegaskan. "Aku juga memiliki alasan untuk membalas dendam. Bukankah kita memiliki musuh yang sama? Lynx?"

Banu memperhatikan pria tua di hadapannya dengan seksama, "Aku tidak boleh masuk ke dalam jebakannya. Dia mengetahui rahasiaku, aku harus memusnahkannya," batinnya.

"Aku tidak memiliki dendam apa-apa terhadap Lynx," tegas Banu menolak.

Gahara tertawa, "Tidak memiliki dendam, ya? Apa yang akan Lynx lakukan jika dia tahu mengenai pemuda yang mengubur orang yang penting baginya hidup-hidup di gua itu?"

Banu keluar keringat dingin. "A-Apa maumu?"

"Dengar, Lynx dan Ayunga tidak boleh dibiarkan begitu saja. Bersama, kita bisa membuat mereka merasakan apa yang mereka lakukan pada kita," kata Gahara, dengan marah.

"Ayunga? Kenapa dengan tetua Ayunga?" tanya Banu, penasaran.

"Pria tua itu sudah merusak rencanaku, membuat anak dan istriku bunuh diri. Aku akan membalas mereka berdua terlebih dahulu, lalu Uban!" kata Gahara dengan marah, wajahnya dipenuhi dengan kebencian yang mendalam.

Pemuda itu mempertimbangkan kata-kata Gahara, melihat potensi dalam tawaran itu, meskipun rasa curiga masih menggelayuti pikirannya. "Apa jaminan bahwa kau tidak akan mengkhianatiku?" tanyanya, tetap waspada.

"Jaminan? Kita tidak bisa berjanji dalam dunia ini. Tapi ingat, musuh kita lebih kuat jika kita bertindak sendirian," jawab Gahara, menatap tajam ke arah pemuda itu. "Jadi, apa pilihanmu? Bergabunglah denganku, atau hadapi mereka sendirian dan berharap untuk selamat."

Banu tidak menyetujui langsung, tatap matanya tajam memandang pria tua di depannya. Dia tahu, kesalahan dalam mengambil keputusan akan memiliki dampak yang besar. "Katakan! Apa rencanamu? Agar aku bisa memutuskan menyetujui atau tidak. Tapi sebelum itu, katakan, siapa namamu?"

Gahara tersenyum sinis. "Aku Gahara, dulunya salah satu tetua Yaksa dan seharusnya menjadi kepala suku Yaksa selanjutnya jika bukan karena ulah Lynx, Ayunga, dan Uban. Keluargaku bunuh diri karena mereka," katanya dengan nada marah. "Dan kau? Siapa namamu?"

"Banu," jawab pemuda itu dengan hati-hati.

Gahara mengangguk. "Banu, ya. Kau tahu, aku melihatmu saat menculik wanita itu. Lynx terlihat seperti orang gila ketika dia menyadari kehilangan wanita itu. Raut wajahnya, penuh kemarahan dan ketidakberdayaan. Melihatnya seperti itu membuatku berpikir tentang rencana yang lebih besar."

Banu mengerutkan dahi, bertanya-tanya apa yang ada di pikiran Gahara. "Apa maksudmu?"

"Rencanaku adalah menculik Leena lagi dan membunuhnya," kata Gahara, suaranya tenang namun penuh kebencian. "Dengan cara itu, kita bisa menghancurkan Lynx dari dalam. Dia akan merasakan kesedihan yang mendalam, dan saat itulah kita bisa menyerangnya dengan lebih mudah."

Banu tertegun, merasakan dorongan balas dendam dalam kata-kata Gahara. "Tapi bagaimana kita bisa melakukannya? Lynx pasti akan menjaga Leena dengan ketat."

"Jadi, nama wanita itu Leena ya? Apakah kau tahu di mana Lynx sekarang?" tanya Gahara, berharap Banu memiliki informasi yang berguna.

"Dia sedang pergi ke bagian lain pulau untuk mencari sesuatu," jawab Banu. "Ini mungkin saat yang tepat untuk bergerak."

Gahara tersenyum lebar. "Bagus! Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini. Kita perlu menculik seseorang yang bisa kita gunakan sebagai alat untuk mengancam Leena agar menyerah. Dengan begitu, kita bisa mengatur rencana kita."

Banu terkejut. "Siapa yang kita culik?"

"Kita cari orang yang dekat dengan Leena, mungkin salah satu pengikutnya atau teman dekatnya," saran Gahara. "Ajak dia ke sini dan kita ancam. Jika Leena tahu bahwa orang yang dipedulikannya dalam bahaya, dia pasti akan menurut apa yang kita perintahkan Kita akan membuatnya datang sendirian ke tempat ini sehingga kita bisa membunuhnya."

Banu mengangguk, merasakan ketegangan dan semangat dalam rencana itu. "Itu bisa berhasil. Kita harus bergerak cepat sebelum Lynx kembali."

"Benar," kata Gahara, matanya bersinar dengan semangat. "Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan. Segera setelah kita mendapatkan orang itu, kita bisa mulai mengatur langkah selanjutnya."

Dengan rencana baru di kepala mereka, keduanya tahu bahwa mereka harus bersatu demi mencapai tujuan mereka yang sama, menghancurkan Lynx dan semua yang menghalangi jalan mereka.

***

Lynx yang sedang memikirkan rencana Kronar terhadap dirinya merasa gelisah. Dia sangat mengenal kelicikan Kronar yang selalu memanfaatkan penduduk untuk mengancamnya.

"Bruno, aku memerlukanmu untuk menemukan kampung perampok. Tunjukkan arahnya kepadaku, agar aku bisa segera ke sana sendirian!" perintah Lynx kepada Bruno dengan nada tegas.

"Kepala suku, aku akan mengantarkanmu ke sana," jawab Bruno, menawarkan dirinya karena dia mulai mengagumi Lynx dan kepemimpinannya.

"Kepala suku?" pria tua yang sebelumnya memberikan informasi bertanya dengan heran. "Dari suku mana kamu, anak muda?"

"Aku kepala suku Surya, gabungan dari suku-suku yang ada di pulau ini," kata Lynx singkat, menegaskan posisinya.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Bruno, Lynx menatap tajam ke arah Bruno. "Aku sudah tidak memerlukanmu, tapi aku akan memberimu kesempatan. Selama kamu berhenti menyakiti penduduk, aku akan melepaskanmu." Selama perjalanan, Lynx sudah melihat perubahan sikap pada Bruno; dia tidak lagi terasa seperti seorang perampok yang menakutkan.

"Di dalam hatiku, aku ingin mengabdi kepadamu, Kepala Suku. Aku sebenarnya dari suku Raksa. Karena terpaksa, aku bergabung dengan mereka karena tidak tahu harus berbuat apa. Kini aku menyadari kesalahanku," kata Bruno dengan penuh penyesalan, nada suaranya mencerminkan rasa bersalah yang mendalam.

Lynx memperhatikan Bruno dengan saksama. Dia bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata Bruno. "Baiklah. Jika kau benar-benar ingin memperbaiki kesalahanmu, buktikan dengan tindakanmu," Lynx menjawab, suaranya lebih lembut tetapi tetap tegas.

Bruno mengangguk dengan penuh semangat. "Aku akan melakukan yang terbaik, Kepala Suku. Katakan, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"

Lynx tersenyum melihat keseriusan Bruno. "Kamu pergi menungguku di gua utara yang pernah aku ceritakan. Aku akan menyusul kalian ke sana."

Lynx menatap pria tua tersebut. "Aku akan ke kampung perampok untuk memusnahkan mereka dan menyelamatkan penduduk yang ditangkap. Ikutlah dengan Bruno!" perintah Lynx dengan tegas.

Setelah memberikan sedikit makanan dan minuman kepada pria tua itu, Lynx segera menghilang dari pandangan mereka, melesat dengan kecepatan yang mengesankan.

Bruno merasa kagum melihat kehebatan Lynx. "Dia benar-benar luar biasa," gumamnya, masih terpesona oleh kekuatan yang dimiliki Lynx. Sementara itu, pria tua tersebut terdiam, bingung karena menduga pria yang diajaknya berbicara tadi bukan manusia.

"Kuharap dia benar-benar bisa melakukannya, bisa mengalahkan perampok-perampok itu dan menyelamatkan keluargaku" pikirnya dalam hati, merasakan harapan dan ketidakpastian yang bercampur aduk. Dia menatap ke arah tempat Lynx menghilang dengan penuh harapan.

